Archive for the 'Rasa' Category

Dumb..!

April 2, 2009

“Ini ungkapan paling tulus Ra, jujur aku menyukai mu” Ucapan itu meluncur dari mulutku, nada lirih, terkesan memelas dan jauh dari kesan romantis.

“Aku tersanjung Ke, ini yang kedua kudengar dari mu hari ini dan yang ke-7 dari tiga hari belakangan” Ra menjawab sembari menunduk, berupaya menepis genggamanku pada jemarinya.

“Kau masih ragu? katakan apa yang mesti kuperbuat untuk meyakinkanmu?”

“Makasih, kau tak perlu membuktikan apa-apa. kini, aku makin yakin…”

“Jadi….?” Tak sabar, aku memotong kata-kata Ra.

“Tetaplah sebagai temanku”

Angin kecil nakal mengusik bulu-bulu di hidungku, serbuk sari yang diterbangkannya berhasil membuatku bersin berkali-kali dengan amat sukses tentunya. sementara Ra enak saja dia melenggang meninggalkan aku di pinggir kolam, masih sibuk mengucek-ucek hidung.

“Angin tak tahu diri…”

Iklan

tragedi

Januari 17, 2009

Tragedi selalu menarik untuk di-berita-cerita-kan, syaraf kesadaran saya selalu merasa tergugah ketika mendengar atau bahkan menyaksikan sebuah tragedi.

Tragedi besar luar biasa soal kalapnya naluri biadab mahluk-makhluk zionis yang mem-babi buta membunuhi penduduk Gaza misalnya, akhir-akhir ini menjadi berita yang paling saya nantikan, rasa interest saya jelas lebih tinggi ketimbang ketika menyaksikan film perang hasil propaganda Hollywood.

Saya sendiri tidak bisa lagi membedakan rasa tertarik saya itu karena rasa peduli pada kemanusiaan atau hanya memuaskan nafsu saya akan hiburan. “Bad news is a good news” begitu orang jurnalis berpendapat. Itulah kenapa berita kriminal selalu lebih menarik ketimbang warta pendidikan, kecelakaan saat ibadah haji lebih ‘menjual’ ketimbang ritual haji itu sendiri, bentrok suporter atau wasit yang jadi bulan-bulanan lebih menyita perhatian ketimbang detil jalannya pertandingan.
Contoh lain, saya akan berlari meninggalkan apapun yang sedang saya kerjakan ketika mendengar kabar ada kecelakaan hebat di jalan raya, bukan untuk menolong, namun hanya sekedar menonton.

Ternyata tragedi tak hanya berarti kesedihan, namun dapat juga jadi pemuas nafsu kebutuhan akan hiburan. Tentunya, bagi orang-orang yang mati hati.

Kombek itu kembali

Januari 11, 2009

Akhirnya saya bisa onlen lagi, bisa BW lagi-lagi, bisa posting juga, lagi.

Maap-maap buat temen-temen yang sempet maen ke blog ini dan tak ada kunjungan balik dari saya, terkadang saya emang suka tak tau diri. Namun begitu, bukan berarti saya anti sosial, I love social networking-lah pokoknya mah!. Saya akhir-akhir ini emang suka sok sibuk ngurusin hal-hal yang ga jelas.

Tapi, saya sedih juga saat BW ke blog ini, selain posting pamit, ternyata juga ada keterangan tambahan di widgetnya serta mode komentar yang di Off kan. Dan yang membuat saya lebih kaget lagi, ternyata blog tersebut juga sudah berganti kepemilikan. Entah sekarang jadi milik siapa. Baca Posting Ini.

Merasa kehilangan? Tentu saja, secara dia itu udah saya anggap lebih dari sekedar teman, lebih dari sekedar sahabat, bahkan secara sepihak malah saya udah anggap dia bagai kakak saya sendiri. Terus terang saya belajar banyak hal dari dia, terutama keikhlasan.
Dia lebih sering melakukan kebaikan secara konkret ketimbang berkoar-koar menghamburkan teori belaka, dia juga orang yang sangat peduli pada orang lain dan yang terparah kepedulian pada orang lain lebih sering mengabaikan kepentingannya sendiri. ngeBlog lagi