Hukum Sebab Akibat yang Menyesatkan

Juli 18, 2007

Benarkah setiap akibat terjadi karena sebuah sebab?

Sejak lahir, kita sudah diajari untuk menghubungkan efek tertentu dengan sebab tertentu. Alasan sebenarnya mengapa kita mempersepsikan kejadian-kejadian alam sebagai sebab akibat, adalah karena Allah menciptakan sekuel dari kejadian-kejadian tersebut. Ini mirip dengan film yang tersusun hidup kita terbentuk dari susunan-susunan yang diciptakan satu persatu. Sebagai contoh, pertama ada pohon, kedua ada buah. Alasan mengapa orang menganggap pohon menghasilkan buah karena kejadian mereka terjadi satu sesudah lainnya. Namun sebenarnya Allah menciptakan pohon dan buah secara terpisah.

Oleh karenaya kita lebih suka menyebutnya dengan nama hukum alam. Sebenarnya apa yang kita sebut sebagai hukum alam itu timbul dari pola penciptaan Allah yang dibuat berurutan. Allah menciptakan imej biji sebagai sebab sebelum menciptakan imej bunga. Meskipun Allah adalah pencipta semua sebab dan akibat, hasil kreasi-Nya selalu dilekatkan kepada sebuah sebab tertentu.

Sebenarnya hukum alam ini hanyalah sebuah nama yang diberikan untuk sebuah proses kreasi yang berurutan. Sebagai contoh, karena kapal selalu diciptakan sedang berlayar di atas lautan, maka kita bicarakan tentang kapasitas air untuk membuat benda-benda mengapung.

Anda setuju dengan kutipan panjang ini? Kutipan ini saya sarikan dari sebuah buku terjemahan karya Harun Yahya. Dari kutipan ini saya bisa mengartikan bahwa, semua yang terjadi di dunia ini adalah karena kehendak Allah. Contoh sederhananya begini ketika anda terpeleset dan kemudian terjerembab dengan sukses. Maka ‘tidak benar’ jika anda mengira anda jatuh karena terpeleset. Yang benar adalah anda sudah ditakdirkan untuk jatuh. Soal ‘terpeleset’, itu hanya rangkaian kejadian lain yang diciptakan oleh Allah agar ‘jatuh’ menjadi tampak logis.

Lalu bagaimana jika kejadiannya begini. Saat anda terpeleset, anda tidak jatuh, karena sempat berpegangan pada ujung meja di dekat anda. Apakah usaha untuk menggapai meja agar tidak jatuh juga adalah takdir? Jika memang itu takdir semata, berarti kita tak punya hak sama sekali untuk berlaku di luar kehendak-Nya. Ya, kita sama sekali tak kuasa.

Kemudian saya teringat pada paham Jabariah. Dalam paham Jabariyah, sekaitan dengan perbuatannya, manusia digambarkan bagai kapas yang melayang di udara yang tidak memiliki sedikit pun daya untuk menentukan gerakannya yang ditentukan dan digerakkan oleh arus angin. Ada korelasi yang saya temukan antara paham Jabariah dengan pemahaman HY terhadap suatu kejadian. Ya keduanya sama-sama mengembalikan kepada takdir dan keputusan Allah sebagai pencipta segala sesuatu. Konsekuensinya tentu saja, baik buruk perbuatan seseorang adalah takdir dan kehendakNya semata. Lalu bagaimana dengan konsep Surga dan Neraka sebagai imbalan perbuatan manusia? Pantaskah manusia dihukum atau diberi imbalan lantaran kejahatan dan kebaikan yang dilakukan diluar kendalinya sebagai seorang mahluk. Bukankah ini sama saja dengan menyalahkan Allah atas kejahatan yang kita perbuat. Lalu pantaskah kita mendapat imbalan dari kebaikan yang lagi-lagi juga merupakan perbuatan yang sejatinya bukan ‘kehendak’ kita?

Anda setuju dengan konsep ini? Saya sendiri masih ‘belum’ yakin. ntahlah!! karena saya masih terbiasa dengan mencari sebab atas kejadian-kejadian yang terjadi di sekitar saya.

23 Tanggapan to “Hukum Sebab Akibat yang Menyesatkan”

  1. almascatie Says:

    doh kena moderasi..🙂 aku baca dulu ah baru comment🙂

  2. almascatie Says:

    teringat kata2 ‘manusia adalah khalifah diatas bumi ini’ semua memang berpulang pada yang maha mengatur, tapi manusia dilahirkan dalam keadaan suci… dirinyalah yang menentukan segala perbuatannya didunia ini, Allah sudah memberikan pedoman untuk setiap jalan yang telah ditentukan dan itu terserah kepada yang melakukan, apakah dia akan mengikuti baik atau buruk,
    yang penting bagi saya menjadi kritis tanpa harus menyusahkan diri sendiri, bukankah jalan itu kebaikan itu sangat mudah?

  3. deKing Says:

    Saya tidak akan menjawab pertanyaan di awal tulisan karena saya tidak bisa dan berani untuk menjawab.
    Konsep takdir ini selalu berputar2 di kepala saya. Sudah beberapa kali saya berusaha mencari jawaban (saya tanya ke beberapa ustadz) akan makna takdir yg sebenarnya tetapi saya tetap tidak merasa puas dengan jawaban yg diberikan. Kebanyakan dari beliau2 itu menjawab “yang sudah terjadi itulah yang akhirnya bisa disebut takdir”.
    Masalah saya mirip dgn Mas Andalas:

    Pantaskah manusia dihukum atau diberi imbalan lantaran kejahatan dan kebaikan yang dilakukan diluar kendalinya sebagai seorang mahluk.

    Kebingungan saya berawal dari kematian…
    Umur merupakan suatu takdir yang benar2 mutlak. Tetapi yang saya bingungkan adalah apa saja dari kematian yang merupakan takdir mutlak…apakah hanya panjang umur atau juga meliputi cara kematian.
    Kalau takdir tsb meliputi cara kematian alangkah kasihannya orang2 yg bunuh diri.
    hehehehe Maaf lho Mas, komentar panjang saya ini bukan jawaban tapi malahan jadi ikut2an curhat.
    Tp saya setuju dengan kalimat terakhir Al Maskaty

  4. Ai Says:

    Sama kayak Mas Deking. Saya juga belum berani untuk menyebutkan apakah itu salah atau benar.
    Walaupun saya pribadi percaya bahwa sesuatu yg mempunya garis start pasti akan ada garis finishnya.
    Tapi untuk sebab dan akibat, saya belum bisa berkomentar. ^^v

  5. novee Says:

    ga koment ah… topik nya terlalu berat buat yg katrok nya kaya saya…

  6. Shirei Says:

    Kalau aku ga terlalu musikin what is takdir, sebab akibat dll

    Itu biar Allah yg ngatur. Aku cm berjalan sesuai apa yg dituntunkan di Al Quran ama Al Hadist Do my best dan dont think others. Maklum otak pas2an. kalau mikir yg rumit2 njlimet ntar ^^

  7. tyka Says:

    iya Novee…hari ini si andalas nulis yg topiknya berat. ga bisa ku jadiin bahan postingan, la wong ga tau mau komen apa.

    tapi gini deh, kalo untuk urusan sebab-akibat, salah satu hukum yg saya percayai adalah, The Domino Effect. Apa itu? Menurut kamu Cambridge, Domino Effect adalah:

    the “domino effect : noun [S]
    when something, usually something bad, happens and causes other similar events to happen, like each of a set of dominoes knocking the next one over

    kapan-kapan kalo otakku lg OK (my brain is still in holiday, sorry…), aku tulis ttg Domino Effect deh… I’ll let you know…

  8. tyka Says:

    kamu = kamus
    maap td ngetiknya cepet-cepetan (keburu koneksi putus) jd ya salah ketik gituh :p

  9. Shirei Says:

    pesanku sebelum ini masuk ga? berkali2 posting gagal mulu

  10. jhonrido Says:

    Hukum sebab akibat,….ada nilai positivenya. Coba kita kaitkan dengan pengetahuan. Intinya adalah kemampuan kita mencari sebab akibatnya. Jadi ngak selamanya menysatkan khan??

  11. rd Limosin Says:

    jd ak ditakdirkan ngeblog dan ditakdirkan komen di blog ini

  12. randi Says:

    kalo menurut saya, saya ngga terlalu memusingkan pertanyaan pada 2 paragraf terakhir – karena menjawabnya sulit.
    salam kenal.

  13. andalas Says:

    #almascatie
    saya setuju dengan point yag ini, kita telah diberi kebebasan. dan itulah mengapa hukuman atas kesalahan yang kita perbuat menjadi masuk akal.
    dan tentunya kita hanya perlu berjalan sesuai rel yang telah ditentukan oleh sang Maha Pencipta

    btw, jual pertamak juga ya?😆

    #deking
    iya pak, saya yang masih bodoh ini masih bertanya-tanya, dengan harapan biar lebih sok pintar, namun apa daya saya justru malah tambah pusing.
    dan itu tadi, jika manusia memang benar-benar layaknya kapas yang ditiup angin, atau seperti wayang di tangan dalang. alangkah kasihan nasib-nasib orang yang kurang beruntung. yang baginya memang sudah ‘ditakdirkan’ menderita. yang sama kasihannya dengan orang yang ‘ditakdirkan’ bunuh diri.

    namun saya pernah mendapat sedikit jawaban atas permasalahan ini, adalah Muhammad Sahwni menjelaskan dengan cukup menarik tentang konsep ini. konsep tentang ke-Maha Kuasa-an Tuhan diatas ke-hendak bebas-an manusia. dalam Novelnya yang berjudul “The Madness of God”

    #ai
    ya, tapi kita tidak selalu tahu dimana garis pinis itu berada

    #Novee
    waduhh… maaf mpo saya ndak bisa menulis topik yang lebih menarik, saya tau kok arti “berat” sebenarnya😉

    kata ‘berat’ menurut kamus andalas *lirik-lirik tyka*
    berat : adj
    gak asyik, gak menarik, payah… hahahaha… becanda mpo, maafkanlah daku😉

    #shirei
    tentu saja, tapi kita tetap perlu usaha khan? ikhtiar juga gak kalah penting lho

    #tyka
    oo efek domino ya miss pernah denger sih, tapi terlalu sulit buat diinget oleh saya yang katrok ini *lirik-lirik Novee*
    ditunggu deh postingnya….

  14. andalas Says:

    #jhonrido
    menurut saya sih begitu, justru dengan itulah ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat, karena manusia tidak cukup dengan mengatakan “ahh.. itu semua sudah takdir” kalo semua orang berpikiran seperti itu. saya ragu kehidupan kita bisa secanggih sekarang.

    #rdlimosin
    bisa difahami begitu, meski saya tak begitu setuju

    #randi
    saya harap anda tidak pusing, karena posting ini tidak bermaksud membuat pembacanya pusing, cuma mengajak sedikit buat mengerutkan dahi:mrgreen:

  15. kump45 Says:

    menurut saya tergantung pribadi masing2, misalnya tidak percaya bisa tidak terjadi, kalo percaya bisa terjadi.. eh tp sebuah mukjizat tidak tentu terjadinya.. hehe


  16. kembali ke masing2 orang hehe

  17. rickisaputra Says:

    menurut saya, semuanya memang sudah dituliskan oleh Allah SWT..
    segalanya.. baik yang telah terjadi.. sedang terjadi.. ataupun yang akan terjadi kelak..
    tapi bukan berarti semua itu hanya sesuai kehendak Allah SWT..
    karena, manusia juga memiliki peran, yang bisa menentukan akan bagaimana dia menjalankan hidup nya,..
    misalnya, saat ini saya ada di perempatan jalan. Kalau saya memilih rute ke kanan, maka saya akan menghadapi kejadian INI. Kalau saya memilih ke kiri, ITU pun akan saya alami. Begitu pula dengan pilihan yang lainnya. Semuanya sudah dituliskan oleh Yang Maha Kuasa. Tetapi, saya, selaku manusia yang akan melangkahkan kaki ke jalan itulah yang menentukan akan kemana saya..

    rasanya tidak perlu bahkan tidak pantas untuk menyalahkan Tuhan akan segala yang kita alami. Sabar, berlapang-dada, dan bijaksanalah. Kalau memang kita pernah melakukan kesalahan dalam melangkah dan memilih, akuilah itu kesalahan kita, dan mohonkan ampun padaNya.. Karena Allah SWT Maha Kasih dan Sayang..

    regards,


  18. prasaan tadi aku d posting tapi rupanya gak masuk ya! untung!!!

  19. Akbar Kadabra Says:

    hmm… saya juga mikir kayak gitu. semuanya itu udah ditulis dan dirancang, ada sebab musababnya. makanya gak ada yang gak mungkin di dunia ini kan? selalu ada penjelasan logis dari apa yang terjadi.
    eniwei.. bagaimana cara mengaktifkan link ketika saya login?
    *garuk-garuk putus asa

  20. aLe Says:

    itulah sebabnya saya gak bawa akibat😀

  21. dzoul Says:

    Selawat Keatas Muhammad dan Ahli Keluarga Muhammad..Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang…

    Tuhan itu MAHA ADIL, dengan yakin saya nyatakan DIA tidak pernah menzalimi makhluknya. Ianya ABSOLUTE tidak mungkin sama sekali tidak…

    suka saya keutarakan beberapa firmannya yang lebih kurang berbunyi begini:

    “Aku (Allah) tidak akan mengubah nasib sesuatu kaum melainkan, Mereka mengubah nasib mereka sendiri”

    “Kerosakan yang berlaku ke atas muka bumi ini adalah hasil daripada tangan mereka sendiri”

    1. Kalau kalian merasakan kerosakan dimuka bumi ini adalah takdir atau kehendak mutlak tuhan, lalu firmannya yang tercatat didalam AL-QURAN seperti ayat diatas yang menyatakan kerosakan di muka bumi ini adalah hasil daripada tangan manusia sendiri, itu bermaksud tuhan menuduh kita membuat kerosakan padahal DIA yang melakukannya. BENAR? sedangkan tuhan itu MAHA ADIL. Jawapan daripada diri saya dengan yakin TIDAK SAMA SEKALI tuhan bersikap sedemikian.

    2. Jika kita menyatakan kita mencuri itu adalah sebab TUHAN itu mentakdirkan kita mencuri, itu pun TIDAK ADIL kerana TUHAN sudah menyerahkan KUASA MEMILIH SECARA MUTLAK utk memilih antara BAIK & TIDAK BAIK kepada kita manusia, maka itu diadakan SYURGA & NERAKA sebagai imbalan tindakan atau perbuatan kita. Disitu baru ada kebenaran yang membenarkan KEADILAN ALLAH. Dan dengan ini membenarkan firmannya yang bermaksud “Tidak aku (Allah) mengubah nasib sesuatu kaum, melainkan mereka mengubah nasib mereka sendiri”.

  22. amer zaman Says:

    salam dari malaysia,

    bukankah idea ini salah satu dari fahaman Imam Ghazali?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: