Jejak Evolusi dalam Teologi ; sebuah catatan pinggir

Juni 25, 2007

Meski ‘The Origin Species’nya Darwin telah kurang lebih lahir dua abad yang lalu, tapi sayatannya terhadap keyakinan religius makin menghebat di tangan para Neo-Darwinis sekarang ini. Pro-kontra seputar teori evolusi masih ramai di perbincangkan bahkan benturannya dengan teologi adalah gesekan yang paling menyita perhatian. Bagi para teolog teori evolusi adalah “saingan” konsep ilahi. pandangannya tentang kehidupan telah menafikansama sekali realitas tertinggi keberadaan kosmik. lebih jauh, pandangan evolusionis yang meyakini bahwa keberadaan materi adalah kejadian kebetulan yang dihasilkan oleh proses alam selama jutaan tahun. juga secara khusus ide ini telah mengancam orang yang beriman karena menghancurkan harapan apapun bahwa jagat raya ada disini karena suatu alasan. Ilmu evolusi telah menghancurkan setiap ilusi saleh bahwa kehidupan dan eksistensi manusia direncanakan kekal. dalam pemikiran Darwin, antiteistik telah menemukan fondasi intelektual yang kokoh yang pernah ditemui.

Sebenarnya kebanyakan orang Amerika menerima teori yang diperkenalkan oleh Robert Charles Darwin pada 1852 ini, sebagai teori ilmiah semata. Tapi pesan filosofi yang dibawanya menjadi sangat berbahaya bagi orang beriman. Teori Darwin mendapatkan perlawanan dalam lingkaran-lingkaran religius bukan karena mengajukan asal-usul evolusi makhluk hidup, melainkan karena mekanismenya, seleksi alam, menyisihkan Tuhan sebagai penjelasan yang nyata bagi rancangan organisme-organisme.

Adalah Michael Behe seorang Biokemis dalam bukunya yang kontroversial “Darwins Black Box” meragukan tentang kebenaran Teori Darwin :

“Darwin sendiri mengakui bahwa seandainya pernah di tunjukkan dengan jelas bahwa varietas kehidupan terjadi dengan cara yang lain dari modifikasi – modifikasi yang kecil dan bertahap dengan perubahan-perubahan yang tak terarah, maka teorinya akan terbukti keliru. Melihat syarat yang diajukan oleh Darwin, sekarang ,kita dapat menunjukkan bahwa pembentukan selular makhluk-mkhluk hidup tidak dapat terjadi secara bertahap atau sedikit demi sedikit seperti yang diajukan oleh Darwinian murni. Bagian-bagian komponen dalam sel yang kompleks tidak akan berfungsi dengan baik jika tidak seluruhnya hadir secara serempak, bekerja dalam kerjasama yang terpadu dan ketat. Oleh karena itu, kemunculan yang bertahap, hanya memungkinkan kepingan2 kehidupan terjadi hanya sekali pada suatu jaman, benar-benar tidak dapat menjelaskan sel hidup saja, jangankan dunia kehidupan yang lebih besar.”

Melalui analogi sederhana pendapat behe sekiranya dapat dibenarkan, semisal perangkat tikus jika bagian-bagiannya tidak terkumpul secara lengkap dan sempurna maka dapat dipatikan perangkap tersebut tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik!!

7 Tanggapan to “Jejak Evolusi dalam Teologi ; sebuah catatan pinggir”

  1. andra Says:

    Buat kamu yang pengen dengerin tembang2 Indonesia, Dengerin aja SMEZHO FM Ponorogo Radio Online barengan sama dj2 yg masih abg bgt. ON AIR 6AM – 12PM Caranya Klik http://www.smezhofm.it.pn

  2. mina Says:

    jelas saya sebagai muslim tak bisa menerima konsep darwin tentang evolusinya itu. apalagi ada ‘mata rantai yang hilang’ yang sampai saat ini tak dapat dibuktikan.
    setiap makhluk itu diciptakan seperti adanya sekarang oleh Allah SWT, tanpa ada proses evolusi seperti itu.

  3. andalas Says:

    #mina
    evolusi emang masih perlu di tinjau ulang, banyak kok ilmuwan barat yag juga gak setuju dengan teori ini. jangankan dari sudut pandang agama yang jelas2 menolak, dari sudut pandang ilmiah aja teori ini belum bisa menjawab kebertan2 yang diajukan para ilmuwan.

  4. larashati Says:

    semester ini saya ngambil matakuliah evolusi. kemarin udah ujian. yang perlu diketahui adalah bahwa evolusi hanyalah sebuah “teori”. coba lihat lagi pada metode ilmiah, dimanakah kedudukan sebuah “teori” itu.
    Alhamdulillah, dosen saya cukup bijaksana juga….
    Dalam teori penciptaan alam semesta juga ada teori peciptaan khusus, bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Sang Pencipta, inilah yang harus orang muslim imani.

  5. andalas Says:

    #larashati
    tentu saja, evolusi adalah sebuah teori, sebuah teori yang masih perlu di cari pembuktiannya. teori ini di tolak oleh kalangan religius karena mekanisme nya yang menafikan ‘campur tangan’ Tuhan dalam proses penciptaan, juga membuat seolah-olah kehidupan di dunia ini tidak bertujuan.

    tentang teori penciptaan khusus, atau juga disebut teori rancangan cerdas, terus terang saya belum pahami itu dari segi ilmiah, apakah ini teori ilmiah atau?

    sayang sekali saya baru akan mengambil matakuliah ini semester depan.

  6. tyka Says:

    ga masuk akal.
    eh, ga masuk-akal ato ga masuk-iman ya??

    yg jelas, sebage orang yg (ngakunya) beriman, ya jelas saya ga setuju donk. manusia kan keturunan dr Nabi Adam. bukan dari monyet.

    makanya ada frase yg bunyinya begini, “Anak-cucu Adam,” bukannya, “Anak-cucu Homo Sapiens,”

    xixixi :p

    kalo emang ga setuju, ya udah aja ga usah setuju. Darwinnya aja udah meninggal, ngapain diributin. *salah ya omongan saya?* :p

  7. andalas Says:

    #tyka

    manusia kan keturunan dr Nabi Adam. bukan dari monyet.

    emang siapa miss yang bilang keturunan monyet?

    makanya ada frase yg bunyinya begini, “Anak-cucu Adam,” bukannya, “Anak-cucu Homo Sapiens,”

    lho.. Homo sapiens itu khan nama ilmiah yang diberikan oleh Linnaeus untuk menyebut manusia (human), nabi Adam juga manusia khan?

    emang masih kontroversial kok, tapi gak lantas kalo gak setuju kita malah diam ajah.:mrgreen:


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: