tragedi

Januari 17, 2009

Tragedi selalu menarik untuk di-berita-cerita-kan, syaraf kesadaran saya selalu merasa tergugah ketika mendengar atau bahkan menyaksikan sebuah tragedi.

Tragedi besar luar biasa soal kalapnya naluri biadab mahluk-makhluk zionis yang mem-babi buta membunuhi penduduk Gaza misalnya, akhir-akhir ini menjadi berita yang paling saya nantikan, rasa interest saya jelas lebih tinggi ketimbang ketika menyaksikan film perang hasil propaganda Hollywood.

Saya sendiri tidak bisa lagi membedakan rasa tertarik saya itu karena rasa peduli pada kemanusiaan atau hanya memuaskan nafsu saya akan hiburan. “Bad news is a good news” begitu orang jurnalis berpendapat. Itulah kenapa berita kriminal selalu lebih menarik ketimbang warta pendidikan, kecelakaan saat ibadah haji lebih ‘menjual’ ketimbang ritual haji itu sendiri, bentrok suporter atau wasit yang jadi bulan-bulanan lebih menyita perhatian ketimbang detil jalannya pertandingan.
Contoh lain, saya akan berlari meninggalkan apapun yang sedang saya kerjakan ketika mendengar kabar ada kecelakaan hebat di jalan raya, bukan untuk menolong, namun hanya sekedar menonton.

Ternyata tragedi tak hanya berarti kesedihan, namun dapat juga jadi pemuas nafsu kebutuhan akan hiburan. Tentunya, bagi orang-orang yang mati hati.


Kombek itu kembali

Januari 11, 2009

Akhirnya saya bisa onlen lagi, bisa BW lagi-lagi, bisa posting juga, lagi.

Maap-maap buat temen-temen yang sempet maen ke blog ini dan tak ada kunjungan balik dari saya, terkadang saya emang suka tak tau diri. Namun begitu, bukan berarti saya anti sosial, I love social networking-lah pokoknya mah!. Saya akhir-akhir ini emang suka sok sibuk ngurusin hal-hal yang ga jelas.

Tapi, saya sedih juga saat BW ke blog ini, selain posting pamit, ternyata juga ada keterangan tambahan di widgetnya serta mode komentar yang di Off kan. Dan yang membuat saya lebih kaget lagi, ternyata blog tersebut juga sudah berganti kepemilikan. Entah sekarang jadi milik siapa. Baca Posting Ini.

Merasa kehilangan? Tentu saja, secara dia itu udah saya anggap lebih dari sekedar teman, lebih dari sekedar sahabat, bahkan secara sepihak malah saya udah anggap dia bagai kakak saya sendiri. Terus terang saya belajar banyak hal dari dia, terutama keikhlasan.
Dia lebih sering melakukan kebaikan secara konkret ketimbang berkoar-koar menghamburkan teori belaka, dia juga orang yang sangat peduli pada orang lain dan yang terparah kepedulian pada orang lain lebih sering mengabaikan kepentingannya sendiri. ngeBlog lagi


tendensius…

Oktober 18, 2008

meski coba disamarkan posting itu jelas memasang telunjuk ke muka salah ’seorang blogger’, petunjuknya jelas. jadi, siapapun yg terlibat pada kopdar di sabtu yang serba 12 pasti tau. berprasangka itu lumrah, semua orang  saya yakin pernah melakukannya. namun, sangat tidak etis jika melakukan vonis tanpa klarifikasi terlebih dahulu.

belum lagi soal perkataan ’si tajir’ dan ‘jelata’, saya yakin ini hanya merupakan cara pandang dia terhadap blogger lain dengan memandang berdasarkan status sosial murahan.

awalnya jelas soal blog tuan rumah (tertuduh) yg mendadak jadi private, lalu ketika ada beberapa orang yg kebetulan datang hari sabtu itu ‘belum sempat’ ter-invite, wajar jika kemudian muncul sedikit praduga. namun, saya pikir itu bukan alasan buat menuduh tuan rumah sedang melakukan diskriminasi. ya begitu itu kalo prasangka diperbesar, hak jawab tertuduh di abaikan. akhirnya kopdar yang bermaksud memper-erat silaturahmi malah jadi ajang saling mencurigai.

tapi, mungkin smuanya bisa kembali seperti semula. seandainya pelempar tuduhan mau berbesar hati untuk sekedar meminta maaf.

semoga niat baik ‘tuan rumah’ tidak terkotori oleh ulah orang-seorang.

*opini pribadi, tak ada kaitan dengan siapapun