Tragedi selalu menarik untuk di-berita-cerita-kan, syaraf kesadaran saya selalu merasa tergugah ketika mendengar atau bahkan menyaksikan sebuah tragedi.
Tragedi besar luar biasa soal kalapnya naluri biadab mahluk-makhluk zionis yang mem-babi buta membunuhi penduduk Gaza misalnya, akhir-akhir ini menjadi berita yang paling saya nantikan, rasa interest saya jelas lebih tinggi ketimbang ketika menyaksikan film perang hasil propaganda Hollywood.
Saya sendiri tidak bisa lagi membedakan rasa tertarik saya itu karena rasa peduli pada kemanusiaan atau hanya memuaskan nafsu saya akan hiburan. “Bad news is a good news” begitu orang jurnalis berpendapat. Itulah kenapa berita kriminal selalu lebih menarik ketimbang warta pendidikan, kecelakaan saat ibadah haji lebih ‘menjual’ ketimbang ritual haji itu sendiri, bentrok suporter atau wasit yang jadi bulan-bulanan lebih menyita perhatian ketimbang detil jalannya pertandingan.
Contoh lain, saya akan berlari meninggalkan apapun yang sedang saya kerjakan ketika mendengar kabar ada kecelakaan hebat di jalan raya, bukan untuk menolong, namun hanya sekedar menonton.
Ternyata tragedi tak hanya berarti kesedihan, namun dapat juga jadi pemuas nafsu kebutuhan akan hiburan. Tentunya, bagi orang-orang yang mati hati.
